Ada yang mempertanyakan bahwa jika Nabi Isa a.s. dan aku telah mencapai derajat demikian, lalu derajat apakah yang tersisa bagi junjungan dan penghulu kita, Rasul yang terbaik, Khatamal Anbiya, wujud yang terpilih, Muhammad s.a.w.? Jawabannya adalah bahwa bagi beliau adalah derajat yang luhur dan bersifat khusus, yang tidak mungkin dicapai orang lain.
Masalah keselamatan dan perantaraan (pemberi syafaat) selalu merupakan pokok bahasan utama dalam agama karena tujuan manusia menganut suatu agama adalah pada masalah tersebut. Untuk menguji kebenaran suatu agama, masalah tersebut merupakan kriteria yang jelas dan terbuka sehingga manusia bisa dipuaskan bahwa agama tersebut adalah benar dan berasal dari Tuhan.
Allah SWT tidak akan menciptakan Tuhan lain mirip wujud-Nya karena sifat Ke-Esaan dan sifat tidak ada yang menyamai-Nya yang bersifat kekal mencegah-Nya melakukan hal demikian. Namun Dia ada menciptakan contoh dari sifat Tanpa Tandingan itu dengan menciptakan salah seorang makhluk-Nya sebagai refleksi dari sifat-sifat-Nya yang dalam realitas hanya menjadi milik-Nya semata.
Kenaikan ruhani berupa Miraj dari Rasulullah s.a.w. merupakan pertanda penarikan diri beliau sepenuhnya dari segala yang bersifat duniawi dan tujuannya adalah untuk memperlihatkan posisi makam samawi beliau. Setiap jiwa mempunyai suatu titik di langit yang tidak akan bisa dilampauinya lagi.
Kebanyakan dari umat Kristiani karena tidak memahami realitas Maghfirah, biasanya membayangkan seseorang yang sedang mencari Maghfirah sebagai orang yang fasik dan berdosa. Jika direnungi secara mendalam pengertian daripada Maghfirah akan jelas bahwa justru seseorang yang tidak mencari Maghfirah dari Allah yang Maha Kuasa adalah seorang yang fasik dan kotor. Karena setiap kesucian yang murni merupakan anugrah daripada-Nya dan hanya Dia saja yang bisa membentengi seseorang dari badai nafsunya maka sewajarnyalah bagi para hamba-Nya yang muttaqi untuk selalu mencari Maghfirah dari sang Maha Penjaga dan Maha Pelindung.